Kamis, 03 Februari 2022

Letak Bahagia ???

Ada yang tidak memamerkan kebahagiaannya di media sosial karena memang dia tak memiliki sesuatu yang 'wah' untuk dishare.


Ada yang tak memamerkannya karena dia merasa hal yang ia miliki tak sekeren teman-teman medsosnya.


Ada yang tidak pamer karena menjaga perasaan orang lain.


Ada pula yang tidak pamer karena dia paham bahwasanya dia tidak butuh pengakuan orang lain untuk hidup bahagia.


-----

"Sesungguhnya kebahagiaan itu letaknya di hati, dan tak akan pernah tercapai kebahagiaan hakiki bagi mereka yang tak memiliki Iman, takwa dan rasa qona'ah di dalam hati."


๐Ÿ“Ustadz Boris Tanesia ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

Jangan Pernah Menilai Seseorang Dengan Melihat Masa Lalunya

Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya.


Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam. jauh dari sunnah, jauh dari hidayah, tenggelam dalam dunia yang menipu, terombang ambing dalam kemaksiatan yang nista.

Bukankah banyak sahabat radhiyallahu'anhum yang dulunya pelaku kemaksiatan, peminum khamr, bahkan pelaku kesyirikan ?

Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang ada diatas muka bumi ini.

Bisa jadi anda salah satu dari mereka para ikhwan akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam, yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda, maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.
Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang, kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.


Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Amalan-amalan itu tergantung akhirnya”


๐Ÿ“ Ustadz Dr. Firanda Andirja Hafidzahullah

Sebelum Sampai di Bumi, Sudah Sampai di Langit

Tidak ada yang bisa terhindar dari jatuh cinta, termasuk seorang yang shaleh dan shalelah.

Namun cintanya begitu istimewa, sebelum sampai di bumi, perasaannya sudah sampai di langit.

Beruntunglah seseorang yang dicintai oleh seseorang yang salih, cintanya begitu rahasia, tidak menyebar, hanya tersimpan rapi didalam bait-bait doa yang dia langitkan kepada penciptanya.

Beruntunglah seseorang yang dicintai oleh seseorang yang shalihah, pandai menjaga hatinya, tidak membiarkan orang lain dengan mudah mengetuk pintu hatinya, bagaimana mutiara yg jauh tersimpan di dalam lautan sampai ada yang menemukannya dengan usaha yang berbeda.

Semoga bertemu dengannya, menjalin cinta diatas taqwa.


๐Ÿ“ rizalkiman

Dimanakah dia ???


Dimanakah dia...
Yang katanya ingin bertaubat ketika telah 40 tahun, namun hingga usia menyentuh kepala lima, ia semakin tenggelam dengan dunia.

Dimanakah dia...
Yang katanya ingin berhijab menjadi muslimah sejati, namun sekarang anak sudah dua, mengapa semakin lama semakin menor.

Dimanakah dia...
Yang katanya ingin berubah, mulai sholat berjamaah, hari pun berlalu, namun masih jarang terlihat batang hidungnya.

Dimanakah dia...
Yang katanya ingin memperdalam agama, belajar bahasa arab, bertahun-tahun telah lewat namun kualitas beragama tak kunjung meningkat.

Dimanakah dia...
Yang katanya ingin mulai menghapal Al-Qur'an, waktu pun lama berlalu namun tak ada juga penambahan.

Dimanakah dia...
Yang ingin berhenti bermaksiat, namun entah mengapa semakin hari kemaksiatannya malah semakin dahsyat.

Ketahuilah,
Niat baik yang pernah terbetik di dalam hati, bila tak segera ditindaklanjuti, kelak 'kan sirna dan mungkin tak 'kan pernah kembali.

Menyesallah ia karena telah tertutup pintu kebaikan, diri pun terbelenggu jerat nafsu dan kemaksiatan.

Dimanakah dia..
Oh, ternyata disitulah dia, terbaring di kuburnya, ia telah kembali, menyesal dan berkata,

ุฑَุจِّ ุงุฑْุฌِุนُูˆْู†ِ ู„َุนَู„ِّูŠْ ุงَุนْู…َู„ُ ุตَุงู„ِุญًุง ูِูŠْู…َุง ุชَุฑَูƒْุชٌ

"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan."
(Al-Mu'minun : 99 - 100)

๐Ÿ“ Ustadz Boris Tanesia

Setelah Lulus Mau Kemana ?


Setelah Lulus Kuliah dari Timteng/Lipia, Balik Kampung Halaman atau di Kampung Orang?

Sempet lewat di beranda pembahasan ini, kalau sesuatu itu adalah bentuk nasihat maka jadikan sebagai bahan introspeksi diri. 
Jika itu kurang tepat, maka kita luruskan dengan baik. 

Karena kami bukan siapa-siapa, maka akan kami nukilkan nasihat guru-guru kita dan kisah-kisah guru kita. 

Kalau nasihat Ust. Ahmad Sabiq Hafidzahullahu Ta'ala setelah lulus kuliah dan memiliki gelar Lc/BA atau lainnya, ada 3 pilihan.


1. Balik kampung, babat alas (memulai perjuangan). Karena yang berhak menerima hasil dari belajar kita adalah keluarga dekat.
Allah Ta’ala berfirman :
ูˆ ุฃู†ุฐุฑ ุนุดูŠุฑุชูƒ ุงู„ุฃู‚ุฑุจูŠู†
"Berilah peringatan kepada keluarga dekat kamu" 

Namun tidak semua orang memiliki jiwa perintis. Karena merintis itu berat.

Jadi bisa memilih opsi dua, sambil menyiapkan strategi untuk balik kampung. 



2. Ngabdi di tempat ia belajar dulu, misal dia sebelum kuliah di Timteng/atau tempat lain, mondok di Kota A, maka dia kembali kesana dan mengabdi disana.

Kalau misal bosen, pingin suasana baru. Dan alasan lainnya, bisa memilih opsi lainnya 



3. Berkiprah di tempat lain, bukan kampung halaman, dan bukan juga tempat dia belajar.
Namun usahakan yang paling minim memberikan mukafaah maupun fasilitas (jika mengajar), tentunya untuk menjaga keikhlasan. Karena tidaklah kita memilih kesini, kecuali memang ingin berjuang, bukan karena kemewahan.

Kita Berkiprah dimana saja, yang paling penting tetap menjaga hati, agar selalu ikhlas dan menjauhi sifat cinta dunia yang membinasakan. Allahul Mustaan

Jangan sampai keluar perkataan, "kalau tidak disini kita makan apa, tidak mungkin bisa hidup". 

Dimana saja kita hidup, Allah yang menjamin kehidupan kita, terlebih lagi orang-orang bertaqwa.

Fitnah harta menimpa siapa saja, baik dia ustadz ataupun bukan. Maka kita wajib terus waspada akan fitnah yang sangat berbahaya ini.

Semoga Allah menjaga kita semua. 

Jadi ingat, kisah-kisah ustadz-ustadz kita dahulu.

Pertama : Ada seorang dai, selesai lulus kuliah di Ibukota, beliau mencoba merintis dakwah di kampung halaman, dengan perlahan dan pelan-pelan, namun ternyata masyarakat tidak terima hanya karena sang Da'i ini tidak mau tahlilan. Padahal perangai sang Da'i kepada masyarakat sangat bagus. Namun itulah, karena masyarakat kurang ilmu sehingga sang Da'i dianggap sesat, tentu ada yang menghasut dari pihak-pihak yang dengki. 

Hingga akhirnya suatu hari, rumahnya di kepung preman bayaran, dilempari batu, dan di usir dari rumahnya sendiri. 

Singkat cerita, sang dai akhirnya pindah ke kota Sebelah, untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Dan sekalian berdakwah disana, hingga Allah harumkan namanya di Kota sebelah, kini beliau memiliki Ponpes yang sangat besar dan sudah menelurkan alumni yang berkualitas setelah 20 tahun berjuang.

Namun sang Da'i tetap berupaya untuk dakwah di kampung halamannya, karena jaraknya tidak terlalu jauh.

Tentunya beliau menyusun strategi, agar dakwahnya bisa diterima. Akhirnya beliau mengirim muridnya untuk menikah dengan orang sana. Dan dari situlah pintu dakwah mulai terbuka, hingga kini masih bermanfaat untuk umat dalam penyebaran dakwah di atas manhaj Salaf.

Kini beliau ada agenda rutin memberi kajian di kampung halamannya.

Kedua : Ana kenal seorang dai juga, setelah lulus kuliah di Ibukota, lalu tugas di pelosok. Sampai akhirnya beliaupun betah disitu dan merintis dakwah disana hingga nikah dengan orang sana, padahal beliau berasal dari suatu kota yang ketika dia pulang, akan dijamin jadi PNS. 

Alhamdulillah ponpesnya di pelosok mulai berkembang. Dan Dakwahnya juga diterima masyarakat. 

Masya Allah, Semoga Allah mudahkan segala urusan beliau. 

Itulah sedikit kisah nyata, semoga bermanfaat. 

๐Ÿ“ Abu Yusuf Akhmad Ja'far

Istiqamah Bukan Berarti Harus Selalu Bersih Dari Dosa Sobat


Istiqamah Bukan Berarti Harus Selalu Bersih Dari Dosa Sobat

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ู‰ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆู…ู† ูˆุงู„ุงู‡، ุฃู…ุง ูŠุนุฏ،

Sebelumnya peringatan…!
Semoga judul tulisan ini tidak membuat seseorang meremehkan dosa dan ringan hati kembali lagi untuk bermaksiat, sungguh tidak sama sekali.

Sobat,
Semoga tulisan di bawah menjawab “kegalauan” sebagian orang tentang keinginan istiqamah tetapi kembali “tercebur” ke dalam jurang maksiat.

Semoga tulisan di bawah ini, menjadi penyemangat kembali bagi jiwa yang sudah mulai atau bahkan berputus asa, karena sulit istiqamah dalam ibadah, baik mengerjakan ketaatan atau menjauhi maksiat!

Sobat, ketauhilah…
Satu hal yang sangat diperintahkan Allah dalam Al Quran yang Mulia adalah ISTIQAMAH DALAM IBADAH DAN IMAN SAMPAI MATI.

ูˆَุงุนْุจُุฏْ ุฑَุจَّูƒَ ุญَุชَّู‰ٰ ูŠَุฃْุชِูŠَูƒَ ุงู„ْูŠَู‚ِูŠู†ُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” QS. Al Hijr: 99.
Dan masih banyak ayat yang lain tentang istiqamah.


Sobat,
ISTIQAMAH juga MENJADI WASIAT NABI shallallahu ‘alaihi wasallam. «ู‚ُู„ْ ุขู…َู†ْุชُ ุจِุงู„ู„ู‡ ุซู… ุงุณْุชَู‚ِู…ْ» Artinya: “Ucapkanlah, “Aku Beriman kepada Allah”, kemudian Istiqamahlah”. HR. Muslim.

TETAPI JIKA ISTIQAMAH, BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH TERPEROSOK KE DALAM JURANG DOSA DAN MAKSIAT ATAU KELALAIAN!

Sobat, perhatikan ayat mulia berikut;

ูَุงุณْุชَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูˆَุงุณْุชَุบْูِุฑُูˆู‡ُ

Artinya: “…maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya…” QS. Fushshilat:6.

Ibnu Rajab Al Hanbaly rahimahullah berkata:

ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุงุจุฏ ู…ู† ุชู‚ุตูŠุฑ ููŠ ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ุงู„ู…ุฃู…ูˆุฑ ุจู‡ุง، ููŠُุฌุจَุฑ ุฐู„ูƒ ุจุงู„ุงุณุชุบูุงุฑ ุงู„ู…ู‚ุชุถูŠ ู„ู„ุชูˆุจุฉ ูˆ ุงู„ุฑุฌูˆุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ

Artinya: “Terdapat sebuah isyarat bahwa harus terjadi kelalaian dalam istiqamah yang diperintahkan terhadapnya, MAKA HAL TERSEBUT DITUTUPI DENGAN ISTIGHFAR YANG mengkonsekuensikan untuk bertaubat dan kembali kepada Istiqamah.” Lihat Kitab Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/150.

Sobat,
Semoga tetap istiqamah, MEMANG TERKADANG JATUH BANGUN, terus saja perbaiki diri, terus… sampai bertemu dengan Allah dalam keadaan beriman dan beramal shalih.


๐Ÿ“ Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Tidak Ada Setelah Kesempurnaan Kecuali Kekurangan

Pada tanggal 8 Dzul Hijjah 10 H, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Mina. Beliau shalat zuhur, ashar, maghrib, dan isya di sana. Kemudian bermalam di Mina dan menunaikan shalat subuh juga di tempat itu.

Setelah matahari terbit, beliau berangkat menuju Arafah. Setelah matahari mulai bergeser, condong ke Barat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberikan khotbah.

Di akhir khotbahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ูˆَุฃู†ْุชُู…ْ ุชُุณْุฃَู„ُูˆู†َ ุนَู†ِّู‰ ูَู…َุง ุฃَู†ْุชُู…ْ ู‚َุงุฆِู„ُูˆู†َ؟ ู‚َุงู„ُูˆุง ู†َุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّูƒَ ู‚َุฏْ ุจَู„َّุบْุชَ ูˆَุฃَุฏَّูŠْุชَ ูˆَู†َุตَุญْุชَ.ูَู‚َุงู„َ ุจِุฅِุตْุจَุนِู‡ِ ุงู„ุณَّุจَّุงุจَุฉِ ูŠَุฑْูَุนُู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَูŠَู†ْูƒُุชُู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุงุณِ « ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุดْู‡َุฏِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุดْู‡َุฏْ ». ุซَู„ุงَุซَ ู…َุฑَّุงุชٍ

Kalian akan ditanya tentangku, apakah yang akan kalian katakan? Jawab parahabat: kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau talah menyampaikan (risalah), telah menunaikan (amanah) dan telah menasehati. Maka ia berkata dengan mengangkat jari telunjuk kearah langit, lalu ia balikkan ke manusia: Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, sebanyak 3x” (HR. Muslim).

Setelah beliau berkhotbah, Allah Ta’ala menurunkan ayat:

ุงู„ูŠَูˆู…َ ุฃَูƒْู…َู„ْุชُ ู„َูƒُู…ْ ุฏِูŠู†َูƒُู…ْ ูˆَุฃَุชْู…َู…ْุชُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ู†ِุนْู…َุชِูŠ ูˆَุฑَุถِูŠุชُ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ุฅِุณْู„ุงَู…َ ุฏِูŠู†ًุง

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Pada saat turun ayat tersebut, Umar bin Khattab pun menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”
Umar menjawab, “Sesungguhnya tidak ada setelah kesempurnaan kecuali kekurangan.”

Dari ayat tersebut, Umar merasakan bahwa ajal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat. Apabila syariat telah sempurna, maka wahyu pun akan terputus. Jika wahyu telah terputus, maka tiba saatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke haribaan Rabnya Jalla wa ‘Ala. Dan itulah kekurangan yang dimaksud Umar, yakni kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Read more https://kisahmuslim.com/4648-haji-wada-perpisahan-rasulullah-dengan-umatnya.html